Harga Kendaraan Bakal Melonjak

Lesunya nilai tukar rupiah memaksa produsen kendaraan bermotor menaikkan harga jual produknya. Direktur Sales & Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Duljatmono, mengatakan penguatan dolar mempengaruhi biaya produksi lantaran sebagian komponen masih diimpor. “Tahun ini kami sudah menaikkan harga truk Mitsubishi Fuso dua kali,” kata dia kepada Tempo, akhir pekan lalu. Menurut Duljatmono, Krama Yudha masih mengimpor beberapa bagian dari truk Mitsubishi Fuso.

Komposisi komponen lokal dengan impor, kata dia, mencapai 50 : 50 atau sama besar. Meski sudah menaikkan harga dua kali, Duljatmono mengatakan penjualan truknya belum terpengaruh. “Demand masih ada dan cukup baik dibanding pada tahun lalu,” ujarnya. Meski begitu, Duljatmono mengungkapkan, ada gejala konsumen, khususnya operator kendaraan niaga seperti truk dan bus, mulai melakukan langkah-langkah penyesuaian terhadap tinggi relatif bisa bertahan. Choeru Cahya, mengatakan, selain kurs, ada faktor lain yang memiliki andil dalam menentukan kenaikan harga, seperti kenaikan tarif bea balik nama (BBN). “Kenaikan harga tentunya disesuaikan berdasarkan studi, daya saing, value for money, dan tidak mungkin naik drastis. Kami menjaga harga tetap kompetitif dan terjangkau,” ujarnya.

Imam mengakui bahwa kenaikan harga berkaitan dengan adanya komponen impor. Dia menyebutkan pada Mitsubishi Xpander masih ada kandungan komponen impor 35 persen. “Sehingga ada sedikit adjustment harga,” katanya. Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy, juga mengakui ada peluang kenaikan harga karena pelemahan rupiah terhadap dolar. Hanya, kata dia, opsi kenaikan harga akan ditempuh jika kondisi ini berkepanjangan. “Terakhir kami menyesuaikan harga pada bulan April lalu,” ujarnya. Namun ada juga agen pemegang merek yang tak menaikkan harga.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan harga mobil Toyota belum akan naik meski rupiah lesu. “Sebab, bagi industri otomotif yang sudah memiliki kandungan dalam negeri, 90 persen sudah menyiapkan antikenaikan kurs dolar, antara lain meninjau ulang dan menunda investasi pembelian kendaraan, baik dari sisi nilai maupun jumlahnya. “Ada kemungkinan akan berdampak pada menurunnya permintaan yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ditargetkan. Kami sedang meninjau ulang forecast di semester II,” katanya.

Untuk mobil penumpang, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) sudah menaikkan harga sejak 1 Agustus lalu. Harga multi-purpose vehicle (MPV) tujuh penumpang Mitsubishi Xpander, misalnya, naik Rp 2 juta untuk setiap varian. Head of Sales and Marketing Group MMKSI, Imam sipasi kenaikan cost jauh hari, dengan melakukan hedging dari cost dan lainlain,” ujarnya. Brand Manager PT SGMW Motor (Wuling) Indonesia, Dian Asmahani, juga memastikan harga MPV Wuling Confero, Confero S, dan Wuling Cortez tidak naik. Dia menyebutkan komponen lokal dua model itu sudah di atas 60 persen. “Kami juga on progress untuk meningkatkan kandungan lokal,” ucap dia. Berbeda dengan pabrikan lain, Wuling ternyata tak terlalu bergantung pada dolar untuk impor sebagian komponen. “Untuk transaksi luar negeri, kami mostly memakai yuan,” kata Dian.