Pasar Otomotif Australia Jadi Incaran

Pasar Otomotif Australia Jadi Incaran

JAKARTA — Kementerian Perdagangan menilai pasar otomotif Australia potensial menjadi ladang ekspor produk kendaraan bermotor dalam negeri. Peluang semakin terbuka seusai perundingan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IACEPA) rampung beberapa waktu lalu. “Bukan hanya mobil konvensional, tapi juga listrik dan hybrid,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Imam Pambagyo, kemarin. Imam mengatakan industri otomotif Thailand juga berkembang pesat setelah negara tersebut merampungkan negosiasi kerja sama perdagangan dengan Negeri Kanguru. “Kami belum punya angka targetnya, tapi kita bisa masuk ke sektor tersebut,” ujarnya. Pada IA-CEPA, Australia tak hanya berkomitmen menghapus bea masuk terhadap 6.474 pos tarif, tapi juga bakal memberikan kemudahan ekspor mobil hybrid dan listrik. Kemudahan akan diberikan dengan persyaratan produk berupa change in tariff heading, qualifying value content 35 persen, atau built in Indonesia dari complete knock down.

Imam berharap terbukanya pasar otomotif Australia akan diikuti oleh negara lainnya. “Australia bukan satu-satunya target, tapi bagaimana kita bisa masuk ke pasar dunia,” ujar Imam. Dia berharap peningkatan ekspor otomotif dapat memperkecil defisit perdagangan antara Indonesia dan Australia, yang tahun lalu mencapai US$ 3,48 miliar. Pada semester pertama lalu, defisit perdagangan Indonesia-Australia sebesar US$ 1,36 miliar, turun 18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,67 miliar. Menurut Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini, hasil perundingan soal ekspor mobil listrik dan hybrid dengan Australia bakal menjadikan produk otomotif Indonesia lebih murah ketimbang produk negara lain. “Potensinya bagus dan bisa jadi andalan ekspor,” kata Made.