Perluasan Pasar Ekspor Digeber

Perluasan Pasar Ekspor Digeber

JAKARTA — Pemerintah mengintensifkan upaya mendorong kinerja ekspor setelah menggulirkan kebijakan pengendalian impor. Presiden Joko Widodo dipastikan akan membawa misi ini sebagai salah satu agenda lawatan kenegaraan pekan depan. Kemarin, Jokowi memimpin rapat kabinet terbatas untuk membahas secara khusus rencana kunjungannya ke Korea Selatan dan Vietnam pada Senin-Rabu mendatang. Dia berharap lawatan ini akan mencapai hasil yang konkret untuk memperkuat kerja sama ekonomi antarnegara. “Terutama investasi di bidang industri karena ini kekuatan yang dimiliki Korea Selatan,” kata Jokowi, membuka rapat di Istana Bogor. Selain investasi, peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia-Korea Selatan meliputi bidang industri dan perdagangan. Rencananya, 10 nota kesepahaman antarbisnis senilai US$ 1 miliar di sektor otomotif, energi, transportasi, dan infrastruktur diteken di depan pemimpin kedua negara itu.

Peningkatan kerja sama perdagangan juga akan menjadi fokus kehadiran Jokowi dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia Wilayah Asia Tenggara (WEF-ASEAN) di Vietnam. Pembicaraan bilateral juga akan membahas masalah ekspor otomotif Indonesia yang sempat terganggu karena aturan pengetatan impor Vietnam. “Fokusnya adalah penguatan ekspor dan perlindungan investor-investor Indonesia di Vietnam,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Industrialisasi untuk menggenjot ekspor menjadi isu utama di tengah defisit neraca perdagangan Indonesia yang mencapai US$ 1,02 miliar sepanjang paruh pertama tahun ini. Pertumbuhan ekspor tak sekencang impor. Tak pelak, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) melebar. Pada April-Juni 2018, CAD mencapai US$ 8 miliar atau 3 persen dari produk domestik bruto. Upaya menggeber kinerja ekspor untuk mengerem laju CAD dilakukan bersamaan dengan digulirkannya kebijakan pembatasan impor lewat penyesuaian tarif perpajakan. Pemerintah juga berencana menunda sejumlah proyek strategis nasional yang dianggap bakal membutuhkan banyak komponen luar negeri. Tanpa kombinasi peningkatan ekspor dan pengendalian impor, Bank Indonesia memperkirakan CAD tahun ini berpotensi mencapai US$ 25 miliar, naik 44 persen dibanding tahun lalu yang hanya defisit US$ 17,3 miliar. Kondisi ini mengkhawatirkan lantaran membuat perekonomian dalam negeri rentan terhadap gejolak eksternal. Stabilisasi nilai tukar rupiah yang sepanjang tahun ini telah terdepresiasi 9,9 persen pun bakal sulit dilakukan. Menurut Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Imam Pambagyo, dalam waktu dekat bakal ada peluang besar menggenjot ekspor ke Australia. Perundingan panjang Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IACEPA) telah rampung. “Sebanyak 6.474 komoditas ekspor ke Australia akan bebas bea masuk,” kata Iman di kantornya, kemarin. Komoditas yang dimaksudkan meliputi peralatan elektronik, permesinan, karet, kayu, kopi, cokelat, kertas, hingga otomotif beserta beragam produk turunan.