Sambut Belgian Blue dengan Pelatihan Operasi Sesar Bagian 1

Pemerintah tengah mengembangkan Belgian Blue. Sapi berotot bak binaragawan ini butuh bantuan manusia saat melahirkan pedetnya. Untuk meningkatkan keterampilan anggotanya melakukan operasi sesar, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Provinsi Lampung menggelar lokakarya teknis operasi sesar pada sapi dan kambing di aula pelatihan PT Indo Prima Beef. Lokasinya di Desa Adirejo, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung , baru-baru ini.

Acara dibuka Ketua PDHI Lampung drh. Nanang P. Subendro diikuti 30-an peserta yang terdiri dari para dokter hewan asal Lampung, Sumsel, dan Kalimantan. Tampil sebagai narasumber adalah drh. Langgeng Priyanto, M.Si., praktisi reproduksi dari Fakultas Peternakan, Universitas Sriwijaya, Palembang. Agar Mahir dan Lancar Nanang mengatakan, “Di bangku kuliah kita sudah dibekali dengan teori dan praktik operasi sesar. Bahkan kawan-kawan juga sudah melakukan operasi sesar secara rutin di lapangan, tapi tidak salahnya ilmu dan keterampilan tersebut terus kita perbarui agar semakin mahir dan lancar.”

Direktur Indo Prima Beef itu menambahkan, pembekalan dokter hewan dengan keterampilan praktik operasi sesar juga sebagai kontribusi PDHI terhadap rencana pemerintah yang akan mengembangkan sapi jenis Belgian Blue dalam upaya mencapai swasembada daging. “Di satu sisi pengembangan sapi Belgian Blue bisa mempercepat tercapainya swasembada daging mengingat bobotnya mencapai 1,5 ton. Tapi di sisi lain, kita harus persiapkan SDM dari kalangan dokter hewan. Sebab jika kehamilan induk dilakukan melalui transfer embiro, maka hampir dipastikan proses kelahiran harus melalui operasi sesar. Lain halnya bila proses kehamilan induk melalui IB, sapi masih mungkin melahirkan secara normal,” jelas Nanang.

Kalau pengembangan Belgian Blue cukup masif, bisa jadi banyak peternak kelak mencari dokter hewan ahli bedah sesar. Apalagi biaya bedah lumayan mahal, bisa Rp2,5 juta/ekor pada sapi. Sebuah peluang yang lumayan bagi profesi dokter hewan. Pentingnya Operasi Sesar Menurut Priyanto, bedah sesar dilakukan pada kasus beberapa tipe-tipe distokia, janin terlalu besar, maldisposisi fetus yang tidak dapat dikoreksi dengan manipulasi, torsio uteri yang tidak dapat dibetulkan lagi. Temasuk, dilatasi serviks dan kerusakan atau prolaps berat pada vagina yang dapat menyertai pengeluaran lewat vagina. “Alasan lain bedah sesar adalah proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal.

Lalu, detak jantung janin melambat dan kelelahan persalinan serta komplikasi preekslampsia. Termasuk putusnya tali pusar dan risiko luka parah pada rahim,” ujarnya. Ada tujuh titik kritis operasi sesar, yakni kecepatan, ketepatan, tim yang kompak, peralatan yang memadai, form persetujuan prognosa, dan kebersihan serta pascaoperasi. “Dalam operasi kita berpacu dengan waktu karena biasanya dokter dipanggil peternak melakukan operasi setelah air ketuban pecah sehingga jika terlambat mengeluarkan fetus bisa mati di dalam uterus,” jelasnya.

Ketepatan di sini adalah tepat dalam menentukan tanda-tanda kelahiran berupa keluarnya lendir kental dari vagina. Pastikan ketuban sudah pecah atau masih utuh. Pastikan posisi fetus (bayi ternak), apakah normal atau sungsang, dan apakah masih hidup atau sudah mati. Terakhir, apakah memungkinkan untuk dilaksanakan operasi sesar.