Sambut Belgian Blue dengan Pelatihan Operasi Sesar Bagian 2

Untuk melaksanakan operasi sesar, dibutuhkan tim beranggotakan empat sampai lima orang yang dipimpin seorang dokter hewan dan tiga atau empat anggota tim dengan tugas khusus. Sebelum pelak sanaan operasi, ketua tim harus melakukan pembekalan untuk berbagi tugas. Formulir persetujuan prognosa wajib diisi selengkap mungkin dan diteken pemilik ternak untuk menghindari tuntutan hukum jika operasi gagal.

Faktor kebersihan perlu dipastikan agar tidak terjadi infeksi pascaoperasi yang bisa membahayakan kelangsungan hidup induk dan pedet. Terakhir, penanganan pascaoperasi juga harus diawasi secara ketat. Dokter hewan wajib memberikan pemahaman kepada petugas lapangan dan peternak tentang penanganan pascaoperasi agar pedet tidak mati. Priyanto mencontohkan kasus di Tugumulyo, Ogan Komering Ilir, Sumsel, pedet mati kepanasan setelah terjemur lantaran si peternak lupa memasukkannya ke kandang. Kasus lainnya, pedet mati karena diare akibat diberi susu kental manis oleh peternak.

Persiapan dan Pascaoperasi Selanjutnya, Priyanto memaparkan dengan sangat mendetail tentang persiapan dan tahapan operasi. Setelah dianestesi, tunggu 1-15 menit baru dilakukan insisi (sayatan) selebar sekitar 30 cm untuk sapi dan 15 cm pada kambing. Lebar sayatan itu mempertimbangkan ukuran anak yang akan keluar melewati lubang tersebut. Tahapan dan teknis sayatan, menurut alumnus FKH IPB itu, diawali dengan memasukkan hewan ke kandang jepit, lalu dianestesi epidural dan lokal flank kiri. Kemudian dilanjutkan dengan sayatan vertikal flank, mulai dari kulit, mobliqus eksterna dan interna, terus ke tranversus abdominalis, peritonium, terakhir uterus. Dalam melakukan sayatan harus dihindari kotiledon.

Setelah bayi ternak berhasil dipegang, langsung ikat tali pusar, diikuti dengan potong tali pusar dan baru di tarik keluar. Lalu uterus harus dipegang salah satu anggota tim atau diberi benang agar tidak masuk ke dalam. Sebab jika sampai lepas, pencariannya makan waktu. Di sinilah titik tersulit dalam menye lesaikan tahapan operasi. Terakhir adalah penjahitan bekas sayatan. “Pada uterus, lakukan jahitan ganda untuk menghindari terjadinya kebocoran. Dan setelah dijahit, pastikan tidak ada kebocoran pada dinding uterus,” ujarnya mewanti-wanti. Setelah menjalani operasi, sapi/kambing diberi antibiotik selama lima hari intramuskular (Penstrep), anti-imflamasi selama tiga hari pertama.

Oksitosin diberikan tiga jam sekali atau sampai 12 jam pascaoperasi sampai plasenta keluar. “Masa kritis akan berlangsung selama 24 jam pertama. Untuk itu, suhu tubuh harus se lalu dipantau. Bila terjadi infeksi, kenaikan suhu tubuh biasanya terjadi antara hari ketiga sampai kelima pascaoperasi,” ia mengingatkan. Bila terlewati masa kritis 24 jam pertama, sapi/kambing terlihat sehat, mau makan, produksi susu terus meningkat dan plasen ta keluar 12 jam pertama pasca operasi.

Terakhir, bila lewat 7 hari pascaoperasi sapi/kambing terlihat sehat, produksi susu meningkat, tidak terjadi kenaikan suhu tubuh (lebih 39,5oC) nafsu makan baik, bisa dianggap operasi berhasil. Pada akhir pemaparannya Priyanto menambahkan, pada kambing yang dioperasi sesar, rata-rata 80%-90% di antaranya bertahan hidup dan bisa melanjutkan masa laktasi. Namun secara reproduksi, masa tunggu pascamelahirkan relatif lebih panjang ketimbang kambing yang melahirkan normal. Proses involusinya lebih lama dan kemungkinan bunting lagi relatif lebih kecil. Sementara pada sapi, berdasarkan beberapa penelitian, tingkat keberhasilannya juga sama dengan kambing.