Sejahterakan Petani dengan Mengedukasi Pengecer Saprotan

Petani kecil di Asia Pasifik dan Afrika yang jumlahnya jutaan orang ikut berkontribusi menyediakan pangan bagi masyarakat dunia. Agar sejahtera, mereka perlu mengadopsi teknologi terbaru yang bisa meningkatkan produktivitas tanamannya. “Syngenta membelanjakan Rp50 miliar perhari untuk riset sehingga menghasilkan teknologi baru yang dapat meningkat kan produktivitas. Kami juga mengupayakan teknologi baru itu sampai ke petani,” ungkap Parveen Kathuria, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia dalam acara jumpa media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun, untuk menyampaikan teknologi terbaru itu kepada 20 jutaan petani di Indonesia secara langsung, butuh usaha yang luar biasa. Karena itu, perusahaan pestisida dan benih tersebut meminjam tangan para pengecer sarana produksi tanaman (saprotan) berskala kecil dan menengah yang sehari-hari berhubungan dengan petani. Berkolaborasi dengan International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia, meluncurkan Program Syngenta PartnerGrow Academy. “Kami membantu melalui dua cara, yaitu berinvestasi ke perusahaan berintegritas yang satu visi dengan kami tentang pertanian dan petani kecil.

Misalnya, perusahaan yang menjual benih, menyediakan infrastruktur, atau yang membeli produk dari petani. Cara lainnya melalui advisory program yang membantu petani kecil dengan pelatihan kapasitas kelembagaan, memberikan akses yang lebih baik terhadap bahan yang mereka butuhkan, perencanaan bisnis dan program seperti PartnerGrow Academy Syngenta,” tutur Ernest Bethe, Principle Operation Officer IFC pada kesempatan yang sama. PartnerGrow Academy Syngenta melihat para pengecer (retailer) yang jumlahnya 20 ribuan se-Indonesia berpeluang menjangkau ribuan petani. “Sekitar 90% dari mereka adalah toko-toko kecil di desa-desa dan kecamatan. Biasanya kekurangan mereka ada dua.

Kekurangan dalam mengelola bisnis, yaitu tidak punya pengetahuan, mencampur uang pribadi dengan uang perusahaan sehingga banyak yang kolaps. Kekurangan kedua, tidak bisa memberikan servis yang baik kepada petani tentang produk yang tepat untuk mereka. Dua hal itulah menurut IFC dan Syngenta perlu dibenahi, maka kami melakukan langkah-langkah kecil yang nyata dengan melakukan pelatihan di Surabaya,” papar Fauzi Tubat, Commercial Area Head Sumatera Area & East Indonesia Crop Protection PT Syngenta Indonesia. Fauzi menambahkan, sebagai proyek percontohan, Syngenta PartnerGrow Academy itu dilakukan dengan melibatkan 70 pengecer dari empat kota di Jatim, yaitu Bojonegoro, Gresik, Lamongan, dan Tuban.

Para pengecer ini melayani 21 ribu petani. Separuh di antara para pengecer diberikan pelatihan dengan 10 modul, sisanya tidak diberi pelatihan sebagai kontrol. Materi pelatihan, menurut Rick van der Kamp, meliputi arus kas, manajemen persediaan, teknik penjualan, pengendalian biaya, motivasi tenaga kerja, penyusunan rencana bisnis, komunikasi efektif, analisis laporan keuangan, kepedulian pelanggan, dan penyelesaian masalah. “Tujuan utamanya adalah membantu pengecer menjadi pengelola bisnis yang lebih baik dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para petani pelanggan mereka,” terang Senior Operation Officer Agribusiness & Forestry IFC itu Diperluas Pelatihan dilakukan tiga kali setiap dua bulan di hotel lalu dilanjutkan dengan pendampingan selama enam bulan mulai Mei 2017. “Hasilnya ternyata sangat bagus.

Sebanyak 90% dari pengecer sangat puas terhadap pelatihan. Dan 77% pengecer mengimplementasikan minimal satu praktik baru yang diajarkan dalam pelatihan. Pengaruh terhadap bisnis retailer peserta juga signifikan. Penjualan (pupuk, alat pertanian, produk perlindungan tanaman) lebih tinggi dan marginnya pun le bih baik meskipun persaingan meningkat,” urai Rick. Secara kualitatif, petani padi dan jagung di sana mengakui mendapat pelayanan yang lebih baik dari retailer peserta. Petani pun menjadi lebih aktif dalam mendapatkan informasi tentang produk dan mempelajari praktik bertani. “Kami menyimpulkan, dengan mendapat kan informasi yang lebih baik dari pengecer, petani akan mengaplikasikan produk yang lebih tepat untuk tanaman. Petani akan menggunakan produk yang lebih tepat waktu, jenis yang lebih tepat, dan memberikannya secara lebih efisien.

Jadi akhirnya menghasilkan produktivitas lebih baik dan pendapatan lebih tinggi lagi melalui pelayanan yang lebih dari para pengecer,” papar pria yang lima tahun bertugas di Indonesia ini. IFC dan Syngenta sangat senang dengan hasil percontohan dan akan memperluas program tersebut. Bulan ini program tersebut dilangsungkan di Lampung dan Sumatera Selatan. “Perjalanan ini akan berlanjut dan kami akan membantu petani kecil dan pengecer meningkat kesejahteraannya yang akan berkontribusi terhadap program swasembada pangan nasional,” pungkas Parveen.