Cara Menangani Demam pada Anak

Beberapa waktu lalu, Yayasan Orang Tua Peduli kembali menyelenggarakan Program Edukasi Anak untuk Orangtua, bertempat di Islamic Centre, Bekasi. Tampil sebagai pembicara, dr. Yulianto, yang memaparkan tentang demam. “Orangtua sering khawatir demam tinggi akan mengakibatkan kejang.

Padahal, sebagian besar penyebab demam adalah virus sehingga bersifat self-limiting, akan hilang dengan sendirinya. Yang perlu disadari orangtua, demam merupakan respons tubuh terhadap infeksi. Ini adalah cara tubuh untuk meningkatkan sel darah putih yang bertujuan membunuh sumber infeksi.”

Apa efek demam? Bagai dua sisi mata uang. Riset menunjukkan, demam memicu produksi sel darah putih sehingga dapat membunuh kuman penyebab infeksi. Tapi, demam tinggi dapat menyebabkan penguapan berlebihan dan metabolisme tubuh meningkat sehingga anak bisa mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi.

National Instutite for Health and Clinical Excellence (NICE) merekomendasikan antipiretik (obat penurun demam) diberikan bila anak demam disertai dengan sikap gelisah dan tak nyaman. Beberapa jenis antipiretik tersedia di pasaran dengan beraneka ragam merek. Akan tetapi hanya parasetamol/asetaminofen dan ibuprofen yang direkomendasikan sebagai antipiretik pada anak.

Aspirin dan metamizol tak lagi direkomendasikan karena efek samping lebih besar. Ibuprofen mempunyai efek samping yang lebih besar daripada parasetamol seperti mual, perdarahan, dan gangguan ginjal. Pada kesempatan yang sama, dr. Yoga Pranata memaparkan tentang penanganan kegawatdaruratan pada anak.

Orangtua perlu mengenali apa yang dimaksud kondisi gawat darurat. Gawat adalah kondisi yang membahayakan jiwa, darurat adalah kondisi yang tak bisa ditunda. Yang termasuk tidak gawat di antaranya batuk, pilek, demam, diare tanpa dehidrasi, sakit telinga, reaksi alergi ringan. Kondisi tidak gawat misalnya tersayat pisau, mimisan, digigit binatang, patah tulang tangan atau kaki.

Yang disebut gawat di antaranya tenggelam, tersengat listrik, tersedak, serangan jantung, dan reaksi alergi berat. Karena sudah kejadian, ada kemungkinan anak mengalami cedera otak. Beberapa tandanya kehilangan kesadaran, sangat rewel, sakit kepala berkepanjangan, muntah lebih dari 2 kali tanpa ada kaitan dengan makanan, sulit berjalan, sulit dibangunkan, kejang (pada salah satu sisi tubuh), ukuran pupil tak sama atau tampak lingkaran hitam di sekitar mata, serta keluar cairan/darah dari telinga atau hidung.

Sementara itu, dr. Novita L. Abidin memaparkan seputar perawatan bayi baru lahir. Menurutnya, para orangtua baru perlu memerhatikan pada menit-menit pertama, jam pertama, hari pertama, minggu pertama, bahkan bulan pertama. Dengan memberi perhatian ini, orangtua akan lebih mudah memantau tumbuh kembang anaknya. Apabila diketahui tidak sesuai dengan yang diharapkan, dapat segera diintervensi, tentunya lewat penanganan dokter.