Kesehatan Pencernaan Bayi

Beberapa waktu lalu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bersama Nutricia Indonesia Sejahtera (NIS) menyelenggarakan media workshop mengenai kesehatan pencernaan bayi, di hotel JW-Marriott. Hal tersebut diangkat untuk para jurnalis bukan tanpa alasan.

Menurut data terkini, diperkirakan sekitar 55% bayi menderita setidaknya satu dari banyak gejala pencernaan, seperti sembelit, kolik, dan naiknya makanan dari tenggorokan atau lambung. Aneka gangguan pencernaan ini bisa terjadi pada bayi 0 hari sampai usia sekitar 3-4 bulan.

Dokter Antonius P, SpA(K) yang mewakili IDAI, mengatakan, orangtua harus mendapat pengetahuan khusus mengenai hal ini. “Lewat media adalah cara terbaik menyebarluaskan dan memberikan edukasi kepada masyarakat,” katanya. Edukasi bertambah jelas dengan hadirnya Prof. Yvan Vandenplas MD, Phd., dari University of Brussels, Belgia.

Menurutnya gangguan pencernaan kemungkinan besar tidak akan terjadi jika sejak lahir, bayi mendapatkan ASI eksklusif. Formula feeding dapat membentuk kekacauan dalam perut bayi karena banyak zat yang tidak bisa diurai oleh bayi. Beda dengan ASI yang dapat diserap semuanya dengan baik oleh bayi. Pembicara kedua, Prof. Dr. Muhammad Ju­ rie, PhD., Sp.A(K), mengatakan, jika muncul gangguan pada pencernaan bayi, banyak hal yang bisa terjadi.

Seperti munculnya regurgitasi (muntah/ gumoh), sering menangis (kolik), rewel, kembung, distensi abdomen, hingga konstipasi (sembelit). Penanganannya tentu disesuaikan dengan kasusnya, dan harus segera dilakukan. Karena jika bayi kolik, bisa berbuah masalah. Orangtua yang cemas akan membuat proses menyusunya terganggu.

Anak pun kurang istirahat karena lebih banyak rewel, yang pada akhirnya bisa membuat tumbuh kembangnya terhambat. Untuk mengatasinya, bila si kecil menyusu formula, bisa dimulai dengan mengganti susu formula yang dikonsumsi. Bagi yang menyusu ASI, perhatikan higienitas wadah menyimpan ASI perah. Jika menyusui, ibu harus menghindari makanan yang menjadi pemicu alergi.