Mama Sempurna Cuma Ada Di Surga Bagian 1

Satu pagi, Nina mengendarai mobil mengan- tar dua buah hatinya pergi ke sekolah. Sampai di persimpangan, Nina berniat belok ke kanan. “Saya kasih sein kanan supaya kendaraan di belakang tahu kalau saya mau belok,” ucap Nina. Karena sudah memberi lampu sein dan memastikan tidak ada kendaraan lain yang menghalangi laju mobilnya, Nina pun belok. Tetapi tiba-tiba, “Brukkk!” Sebuah sepeda motor menabrak sisi kanan mobilnya. Merasa telah berbuat benar, emosi Nina pun meluap. Dimakinya pengendara motor dengan entakan suara yang tinggi. Setelah kembali ke dalam mobil dan melaju kembali, Nina baru tersadar dan berkata dalam hati, “Oh tidak, anak-anak pasti melihat amarahku tadi!” Anna Surti Ariani (begitu nama komplet Nina) yang seorang psikolog saja bisa tak mampu menahan emosi.

Bisa marah-marah di depan anakanaknya. Apalagi kita ya Mam. Dan tentunya, kita pun pasti pernah melakukan hal yang sama dengan Nina. Tapi, soal marah-marah di depan anak, tentu bukan hal yang luar biasa. Seperti juga bermacam kesalahan yang dibuat Mama Papa. “Tak ada orangtua yang perfect, yang selalu bersikap benar, selalu berperilaku positif, selalu konsisten tidak pernah salah, dan sebagainya. Suatu saat, mereka pasti akan melakukan kesalahan dan kesalahan ini dilihat langsung oleh anak,” jelas Nina. Dan seperti Mama Papa tahu, anak adalah peniru yang andal. Karenanya wajar kalau kita pun khawatir, jika segala perilaku kita yang buruk akan ditirunya kelak. Tapi, memperlihatkan kepada anak hal yang tidak baik, ternyata tak selalu buruk. Karena proses belajar anak memang harus lengkap.

Seperti dikatakan Nina, pada sisi lain anak juga perlu melihat dan belajar bahwa orangtua tidak seperti malaikat. Orangtua kan juga manusia yang pada situasi tertentu tidak mampu mengendalikan emosi, lupa dengan kesepakatan yang sudah dibuat bersama anak, atau melakukan hal-hal yang secara moral tidak baik. Karenanya, dengan melihat hal yang positif dan negatif, pengetahuan anak terhadap berbagai perilaku orang-orang di sekelilingnya akan lebih kaya.

“Kalau selalu disuguhkan dengan perilaku manis, baik hati, penyayang malah akan membuat anak terkaget-kaget ketika berada di luar rumah,” ujar Nina, ibu dua anak yang telah 13 tahun menjalani profesi sebagai psikolog. Namun, Nina juga menegaskan, jikapun kita melakukan kesalahan, itu bukan yang disengaja. Dan segeralah menjelaskan kepada si kecil, kenapa kita sampai berbuat seperti itu. Tenangkan diri dari emosi tinggi, dan sampaikanlah dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

baca juga artikel lanjutannya di https://blueprintsinthebrain.com/parenting/mama-sempurna-cuma-ada-di-surga-bagian-2/