Nikmatnya Tinggal Dekat Stasiun Kereta

Kamis pagi, pukul 07.10 WIB, Yusrizal warga Puri Nirwana, Karadenan, Cibinong bergegas menuju Stasiun Bojong Gede. Di stasiun itu, Ia memarkir sepeda motor dan menuju pelataran bersiap naik Kereta Rel Listrik (KRL) menuju Jakarta. “Paling 30menit sampai kantor. Dari stasiun tebet, tinggal jalan kaki,” kata Ayah satu putra yang bekerja di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Sebelum bermukim di Cibinong, Yusrizal tinggal di kawasan Sumur Bor, Cengkareng, Jakarta Barat. Menempati kontrakan tiga petak, ia hidup bersama istri dan satu putra selama lebih dari 3 tahun. Setelah ada rezeki, ia hijrah ke Cibinong. Selain harga rumah yang terjangkau, akses kereta menjadi pertimbangan dirinya saat membeli rumah di sana.

Dalam studi Kementerian Perhubungan dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) pada proyek Jabodetabek Public Transportation Policy Implementation Strategy (JAPTraPIS) tahun 2012 mencatat, perjalanan harian komuter dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ke Jakarta mencapai 6,9juta perjalanan per hari, sementara di dalam DKI Jakarta mencapai 18,7juta perjalanan per hari. (sumber: Kompas,11 Agustus 2015).

Developer Gencar Bangun Rumah

Di Jakarta, lahan semakin langka untuk membangun perumahan. Jika ada, harga lahan dan rumah sudah sangat tak masuk akal. Bagi kaum urban yang berkantong pas-pasan memiliki rumah di tengah Jakarta itu nyaris mustahil. Daerah penyangga Jakarta, seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang jadi alternatif kaum urban untuk memiliki rumah. Apalagi daerah penyangga itu sudah tersedia infrastruktur jalur KRL yang memadai. Lahan masih banyak tersebar harga jual rumah relatif masih terjangkau.

Amran Nukman, Ketua DPD Real Estat Indonesia(REI) DKI Jakarta mengatakan, pertumbuhan rumah di dekat jalur kereta setiap tahun semakin tumbuh berkembang seiring kebutuhan hunian kaum urban. “Karena lahan di ibukota terbatas dan mahal, banyak developer besar dan menengah membangun di wilayah penyangga,” kata Amran yang mengklaim 1/3 dari 400 anggota DPD REI DKI Jakarta ikut serta membangun perumahan di daerah penyangga yang berdekatan dengan stasiun KRL.

Daerah Penyangga Tumbuh Merata

Pembangunan rumah di daerah penyangga, kata Amran, sudah terpola dan seiring dengan penyediaan infrastruktur kereta. “Dulu, saat Jalan Tol Jagorawi terbangun otomatis pembangunan ikut tumbuh. Sekarang, pembangunan rumah di dekat stasiun kereta pun hampir sama. Tumbuh dan berkembang,” ujar Amran. Contoh perumahan yang berkembang karena tersedianya akses kereta sudah cukup banyak.

Misalnya, Metland membangun di daerah Cibitung memanfaatkan kereta yang ke arah Cibitung. Bahkan akan dibuat seperti kawasan Bintaro yang developernya membangun sendiri stasiun Jurang Mangu. Begitu pula, pembangunan daerah Bintaro ke arah Serpong yang menerus ke daerah Maja, Rangkas Bitung, Banten. Ciputra Group membangun perumahan yang memiliki akses kereta. “Sebetulnya, pembangun rumah di daerah penyangga sudah merata. Dulu banyak ke daerah Depok dan Bogor, kini sudah tersebar.

Ada di Bekasi, banyak juga di Serpong,” kata Amran Hal senada diungkapkan Eddy Ganefo, Ketua DPP APERSI (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia). Bagi Eddy, Serpong masih populer dan jadi magnet perumahan yang memiliki akses kereta. Selain itu, jalur kereta ke arah Rangkas Bitung yang mulai banyak dilirik orang. “Asal ada kereta api yang cepat dan ekonomis, mereka rela mengambil rumah yang sangat jauh,” ujar Eddy menegaskan. Daerah Bekasi tentu tidak tinggal diam. Bukan hanya industri saja, perumahan berkembang pesat di sana. Yang menonjol Summarecon Bekasi yang menyediakan hunian terintegrasi sebagai kota mandiri.

Perbaikan Infrastruktur Antarmoda

“Pertumbuhan kereta mendorong perkembangan properti,”ujar Amran. Biasanya perkembangan properti bukan hanya rumah, namun fasilitas kota seperti pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, dan sentra bahan bangunan. Yang perlu diperhatikan, kata Amran, infrastruktur antarmoda transportasi massal saat ini, seperti kereta dengan bus belum memadai.

Sekarang ini ini banyak orang yang menitip motor dan mobil di stasiun. “Harusnya setelah turun dari kereta ada transportasi khusus yang mengantar sampai ke depan rumah. Jangan 1 orang naik 1 motor yang menambah semrawut saat keluar stasiun,” kata Amran. Yusrizal tentu saja tidak sendirian. Ia bagian dari populasi penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi lebih dari 28juta jiwa yang mengandalkan kereta, bukan angkutan massal lain, seperti bus atau angkot biasa.

“Naik bus, gak ngejar. Macetnya parah. Bisa 2 jam lebih. Capek di jalan. Ongkosnya jauh lebih mahal,” tutur Yusrizal yang akhir pekan berwisata tetap naik kereta seperti keseharian dirinya bertaruh hidup bekerja di Jakarta. Di halaman berikut, kami akan menyajikan potret, potensi, dan problem seputar rumah-rumah yang berdekatan dengan stasiun KRL (maksimum berjarak 5km dari stasiun). Terbagi dalam tiga rute KRL, yakni Jakarta-Bogor, Jakarta-Tangerang, dan JakartaBekasi. Selamat berburu hunian kesayangan.

Sebuah rumah tentunya tak lepas dari kebutuhan listrik setiap hari. Untuk tetap bisa mendapatkan kenyamanan dari alat elektronik tersebut dibutuhkan sebuah genset untuk rumah tangga. Genset silent sangat cocok untuk rumah tangga. Harga genset silent Mitsubishi 100 kva bisa didapatkan dengan harga diskon jika membelinya di PT. Rajawali Indo yang merupakan distributor resmi.