Tips Pencahayaan Rumah Part 1

Sudah hitungan tahun, Rezki (13)— putra semata wayang dari pasangan Budi Jantira dan Andin— menggunakan kaca mata berlensa tebal. Ia menderita miopi atau rabun jauh, dengan angka minus yang cukup tinggi, yakni minus 3. Setelah ditelaah, ternyata Rezki gemar sekali membaca dan bermain game, namun pencahayaan di ruangan pribadi miliknya kurang mumpuni.

Alhasil, gangguan rabun pun mudah menyerang matanya. Meskipun seringkali disepelekan, pencahayaan buatan ini menjadi salah satu hal vital, khususnya bagi kesehatan mata. Rezki hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak penderita penyakit rabun. Matanya “terganggu” di usianya yang masih terbilang sangat belia.

Memang, menurut Ren Katili, arsitek dari studio ArsitektropiS, kultur masyarakat di Indonesia masih menganut pencahayaan konvensional, yakni satu ruangan satu lampu. Padahal ini salah. “Tiap ruang memiliki fungsi yang berbeda-beda, begitu pula dengan kebutuhan pencahayaannya. Bisa jumlahnya yang berbeda, bisa jenisnya yang berbeda,” ungkap Ren antusias.

Pada prinsipnya, cahaya yang datang akan diterima oleh organorgan mata, lantas sinyal syaraf akan terbentuk dan diteruskan ke otak. Pesan tersebut dicerna di dalam otak, agar keberadaan dan kekuatan cahaya bisa diketahui. Inilah yang dimaksud dengan proses melihat. Nah, jika asupan cahaya ini berlebih atau kurang, maka proses melihat yang biasa dilakukan oleh organ-organ mata akan mengalami gangguan.

Misalnya, ketika kekurangan cahaya, organ-organ mata akan bekerja lebih keras agar proses melihat bisa berjalan lancar. Jika hal ini hanya terjadi sesekali, memang tak akan menjadi masalah. Namun, jika gangguan ini terjadi berulang kali, bentuk mata bisa berubah. Bola mata akan memanjang, atau kornea akan terlalu melengkung, sehingga cahaya tidak bisa difokuskan dengan maksimal.

Alhasil, benda-benda jauh pun terlihat samar dan buram. Inilah yang disebut penyakit rabun jauh. Lalu, apa yang harus dilakukan agar kesehatan mata terjaga, namun aktivitas seharihari tetap berjalan lancar? Berikut adalah beberapa teknik pencahayaan “sehat” di tiap ruang yang dianjurkan.

RUANG KELUARGA

Ruangan yang biasanya berada di area depan atau tengah rumah ini merupakan ruangan yang menjadi titik temu seluruh anggota keluarga, dengan fungsi yang beragam pula. Mulai dari berkumpul dan berbincang, menonton televisi, membaca secara santai, bahkan melumat kudapan pun dilakukan dalam ruangan ini.

Untuk memfasilitasi fungsi yang beragam, pencahayaan yang digunakan adalah general light atau pencahayaan umum biasanya terdiri atas beberapa titik lampu yang ditaruh di atas ruangan. Lebih baik, mengingat area ini berfungsi sebagai area untuk mengharmoniskan seisi penghuni rumah, maka jenis lampu atau cahaya yang digunakan adalah warm light, yang akan memberi kesan hangat dan intim pada sebuah ruangan.

Selain itu, Ren pun menambahkan, menurut ilmu feng shui, penggunaan lampu gantung atau pendant lamp di ruang keluarga sangatlah dianjurkan, karena dapat mengumpulkan chi ke tengah ruangan, bahkan ke tengah rumah. Baca juga lanjutan dari artikel ini pada postingan selanjutnya https://blueprintsinthebrain.com/rumah/tips-pencahayaan-rumah-part-2/