Ketika Dua Lempeng Beradu

Gempa dengan magnitudo 7 memporakporandakan Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Ahad lalu. Korban pun berjatuhan. Dalam sepekan, Lombok diguncang gempa dua kali. Gempa yang berpusat di lereng arah utaratimur laut Gunung Rinjani ini terjadi akibat aktivitas sesar naik Flores atau Flores back arc thrust. Indonesia memang berada di dalam kawasan ring of fire atau kawasan “cincin api” Pasifik. Kawasan ini merupakan rentetan gunung berapi di bumi. Sekitar 95 persen gempa yang terjadi di seluruh dunia berada di kawasan tersebut, salah satunya yang terjadi di Lombok.

Kepala Subbidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, M. Arifin Joko Pradipto, mengatakan back arc thrust adalah pertemuan dua lempeng yang menumpuk di dalam laut, memanjang dari arah utara Pulau Flores hingga laut utara Lombok. Beberapa ahli bahkan menduga sesar ini memanjang sampai ke laut di arah utara Pulau Jawa.

Bidang sesar ini miring ke arah selatan hingga kedalaman beberapa kilometer sehingga bagian bawah bidang sesar bisa jadi berada di bawah pulau-pulau Nusa Tenggara, termasuk Lombok. Arifin menambahkan, dua gempa Lombok yang terjadi pada 29 Juli dan 5 Agustus itu berhubungan dengan pergerakan aktivitas Flores back arc thrust. “Lempeng seperti lapisan yang menumpuk. Lempeng dari utara ke selatan itu masuk, sehingga seolaholah bagian lempeng dari selatan ke utara naik. Makanya ini disebut sesar naik,” kata Arifin kepada Tempo, Selasa lalu.

Mekanismenya mirip dengan fenomena zona subduksi di Mentawai, tapi sedikit berbeda. Di Mentawai, zona pertemuan lempeng yang saling berdesakan menyebabkan pulau di sana turun dan tibatiba terangkat naik selepas gempa besar. Di Lombok, lempeng aktif mendesak dari utara ke selatan menghunjam ke lempeng di bawahnya. “Kalau di Lombok, pulaupulau tersebut seolah-olah naik karena desakan lempeng benua dari utara ke selatan.

Kalau di Mentawai itu thrust (zona subduksi) dan panjang. Di Lombok pendek. Ini masih bagian lempeng benua tapi di tengahnya ada yang pecah,” kata Arifin. Arifin mengatakan gempa itu bukan satu titik, melainkan satu bidang yang bergerak. “Gempa itu bukan titik, episentrum itu bukan titik, tapi bidang. Jadi pergerakannya seluruh bidang, bisa di sini, di sana. Tapi sebetulnya bidang yang itu-itu juga,” kata dia.

Gempa Lombok pada 29 Juli (magnitudo 6,4) dan 5 Agustus (magnitudo 7) berada di bidang sama. “Mekanismenya sama. Kami sedang mencoba menganalisis apakah ini bagian dari doublet atau gempa kembar. Gempa dinyatakan kembar jika berjarak kurang dari 100 kilometer, perbedaan waktunya kurang dari tiga tahun, dan memiliki mekanisme yang sama,” kata Arifin. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, gempa yang terjadi di Lombok dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan patahan naik (thrust fault).

Akibat pergerakan ini, tidak hanya Lombok yang merasakan gempa tapi juga Sumbawa, Bali, dan Jawa Timur. “Episenternya sangat berdekatan dengan gempa yang terjadi pada 29 Juli 2018. BMKG menyatakan gempa yang terjadi pada 5 Agustus merupakan gempa utama (main shock) dari rangkaian gempa bumi yang terjadi sebelumnya,” ujar Dwikorita. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kasbani, mengatakan sejumlah gempa yang terjadi di seputaran sumber gempa Lombok masih merupakan gempa susulan. “Karena jaraknya tak jauh. Masih di dalam Flores back arc thrust,” kata Kasbani. Menurut dia, gempa susulan memiliki karakteristik kekuatan lebih kecil dari gempa utama. Satu-satunya yang bisa dilakukan menghadapi gempa adalah dengan mengantisipasi potensi kerusakan yang timbul akibat guncangan tersebut. “Kita sudah memiliki Peta Kawasan Rawan Bencana. Kita sudah petakan untuk seluruh Indonesia. Dalam skala provinsi sudah punya semua itu untuk antisipasi, daerah mana berpotensi tinggi, menengah, dan rendah. Untuk lebih detail lagi perlu penelitian seperti mikrozonasi. Tapi, sebagai pedoman awal, peta ini sudah cukup,” kata Kasbani.