Saksi Sebut Setya dan Keponakan Terlibat Suap Bakamla

JAKARTA – Sidang kasus suap Badan Keamanan Laut kembali menyebut keluarga bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto. Kemarin, seorang saksi menyatakan pernah mengantarkan uang untuk keponakan Setya, Irvanto Hendra Pambudi. Uang itu berasal dari politikus Golkar, Fayakhun Andriadi, yang menerima suap dari pengusaha pemenang proyek di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Saksi tersebut adalah Agus Gunawan—bekas anggota staf Fayakhun. Kepada hakim, Agus mengatakan uang yang ia antarkan untuk Irvanto berjumlah sekitar Sin$ 500. “Saya sampaikan ada titipan dari bapak, tolong dicek. Ada lima bundel uang,” ujarnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, kemarin. Uang dari Fayakhun untuk Setya melalui Irvanto diduga untuk kepentingan pembiayaan acara Partai Golkar. Pada 2016, Golkar menyelenggarakan musyawarah nasional pemilihan ketua umum. Setya pun keluar sebagai pemenang.

Pemberian dari Fayakhun itu diduga terjadi dalam beberapa tahap. Dalam sidang Januari lalu, terungkap bahwa Fayakhun telah menyerahkan US$ 300 ribu untuk penyelenggaraan Munas Partai Golkar. Uang tersebut berasal dari Fahmi Darmawansyah, Direktur PT Merial Esa, yang menggarap proyek pengadaan satelit untuk Bakamla tahun anggaran perubahan 2016. Agus menambahkan cerita detail penyerahan uang untuk keponakan Setya itu Saat menemani Fayakhun dalam sebuah acara di Pejaten, Jakarta Selatan, ia diberi sebuah tas berisi uang. Agus kemudian mengantarkan tas itu ke showroom mobil milik Irvanto di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dengan menggunakan ojek. Uang diserahkan di sebuah ruangan di showroom tersebut. Dalam perkara ini, Fayakhun didakwa menerima suap sebanyak US$ 911.480. Fayakhun menjadi terdakwa ketiga. Sebelumnya, Fahmi Darmawansyah telah divonis 2 tahun 8 bulan penjara. Sedangkan seorang pejabat Bakamla, Nofel Hasan, dipenjara 4 tahun. Saat diperiksa hakim dalam sidang yang sama, Fahmi menceritakan pernah diajak Fayakhun ke rumah Setya untuk melaporkan soal imbalan proyek pengadaan satelit. “Poinnya soal dana fee 6 persen,” tuturnya. Pertemuan terjadi pada Agustus 2016. Fayakhun dan Setya, menurut Fahmi, kecewa karena ia melapor telah menyerahkan sebagian fee kepada makelar anggaran di Bakamla, yaitu Ali Habsyi. Irvanto telah diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus ini. Ia mengaku mengenal Fayakhun. “Namun saya tak pernah memberi uang,” katanya. Saat ini, keponakan Setya itu berstatus terdakwa untuk kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik. Adapun Setya juga membantah mengetahui detail proyek di Bakamla. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan keterangan saksi, termasuk keterangan Agus, di pengadilan bakal dicermati penyidik Komisi. Jika dirasa perlu, penyidik akan kembali memanggil Irvanto untuk pengembangan perkara. “Dugaan keterlibatan pihak lain pasti akan kami telusuri, sepanjang memang nanti fakta-faktanya didukung bukti-bukti yang cukup untuk dikembangkan,” ucapnya.